Rabu, 26 September 2018

Belajar dan Pembelajaran PAUD

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Proses  Pendidikan  dan  Pembelajaran  pada  Anak  Usia  Dini  (PAUD) hendaknya  dilakukan  dengan  tujuan  memberikan  konsep  yang  bermakna  bagi anak  melalui  pengalaman  nyata.  Hanya  pengalaman  nyatalah  yang memungkinkan  anak  menunjukkan  aktivitas  dan  rasa  ingin  tahu  secara  optimal dan  menempatkan  posisi  pendidik  sebagai  pendamping,  pembimbing  serta fasilitator  bagi  anak.  Melalui  proses  pendidikan  diharapkan  dapat  menghindari bentuk  pembelajaran  yang  hanya  berorientasi  pada  kehendak  guru  yang menempatkan  anak  secara  pasif  dan  guru  menjadi  dominan.   Pada  masa  usia  dini  anak  mengalami  masa  keemasan  (the  golden  years) yang  merupakan  masa  dimana  anak  mulai  peka/sensitif  untuk  menerima  berbagai rangsangan.  Masa  peka  pada  masing-masing  anak  berbeda,  seiring  dengan  laju pertumbuhan  dan  perkembangan  anak  secara  individual.  Masa  peka  adalah  masa terjadinya  kematangan  fungsi  fisik  dan  psikis  yang  siap  merespon  stimulasi  yang diberikan  oleh  lingkungan.  Masa  ini  juga  merupakan  masa  peletak  dasar  untuk mengembangkan  kemampuan  kognitif,  motorik,  bahasa,  sosio  emosional,  agama dan  moral. Pendidikan  usia  dini  merupakan  wahana  pendidikan  yang  sangat fundamental  dalam  memberikan  kerangka  dasar  terbentuk  dan  berkembangnya dasar-dasar  pengetahuan,  sikap  dan  keterampilan  pada  anak.  Keberhasilan  proses pendidikan  pada  masa  dini  tersebut  menjadi  dasar  untuk  proses  pendidikan selanjutnya.  Keberhasilan  penyelenggaraan  pendidikan  pada  lembaga  pendidikan anak  usia  dini,  seperti  :  Kelompok  Bermain,  Taman  Penitipan  Anak,  Satuan  Padu Sejenis  maupun  Taman  Kanak-kanak  sangat  tergantung  pada  sistem  dan  proses pendidikan  yang  dijalankan.

1.2  Rumusan Masalah
1        Apa Pengertian dari belajar dan pembelajaran ?
2        Bagaimana Konsep dalam belajar dan pembelajaran pada PAUD ?
1.3  Tujuan Penulisan
1        Untuk Mengetahui Pengertian dari belajar dan pembelajaran
2        Untuk Mengetahui Konsep dalam belajar dan pembelajaran pada PAUD

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Belajar dan Pembelajaran PAUD
1.     Pengertian Belajar
Terdapat beberapa pendapat dari para ahli mengenai pengertian belajar, diantaranya :
a.       Hilgard dan bower, dalam buku therois oflearning (1975) mengemukakan . “belajar berhubungan  dengan perubahan tingkah laku seseorang tetrhadap suatu situasi  tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau dasar kecenderungan respon pembawaan, kematangan, atau keadaaan-keadaan sesaat seseoramg (misalnya kelelahan, pengaruh orang, dan sebagainya).
b.      Gange, dalam buku the conditions of learning (1977) menyatakan bahwa : “ belajar  terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehinnga perbuatannya (performance-nya) berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengelami situasi tadi.
c.       Crow dan crow (1958) merumuskan pengertian belajar sebagai perolehan kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan, dan sikap. Hal tersebut termasuk cara-cara lain  untuk melakukan suatu usaha penyesuaian diri terhadap situasi yang baru.
d.      Surya (1985) mengemukakan pengertian belajar sebagai proses usaha ynag dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan.
Dari beberapa pernyataan menurut para ahli mengenai pengertian belajar, untuk memudahkan memahami konsep belajar simaklah ilustrasi berikut ;
Gina sebelum masuk sekolah TK tingkat A, belum bisa membaca. Di TK, ia bersama teman-temannya dikenalkan berbagai abjad oleh ibu citra, sang guru. Dengan menggunakan alat peraga ibu citra menunjukan kepada siswa-sisawanya huruf  A sampai dengan Z. Sambil menunjuan huruf-huruf  itu, ibu citra meminta kepada siswa-siswanya menirukan apa yang dikatakannya. Bu citra melafalkan huruf A serentak siswa-siswa mengucapkan A. Seiring dengan berjalannya waktu, di akkhir tahun ajaran, gina beserta teman-temannya dapat menlis dan membaca.
            Jadi dapat disimpulkan, Belajar  adalah hubungan yang dapat membuat perubahan tingkah laku akibat adanya stimulus dan juga pengulangan yang dilakukan oleh guru.
2.      Pengertian Pembelajaran
            Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah, mengajar dilakukan oleh pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik atau murid.sehingga mengupayakan terjadinya interaksi anatara guru dan murid.
Dalam pembelajaran guru harus memahami hakekat materi pembelajaran yang di ajarkannya sebagai suatu pelajaran yang dapat mengembangkan keampuan berfikir siswa dan memahami berbagai model pembelajaran yang dapat merangsang kemampuan siswa untuk belajar dengan perencanaan pengajaran yang matang oleh guru. Jika guru menguasai materi pelajaran, diharuskan juga menguasai metode pengajaran yang sesuai kebutuhan materi ajar yang mengacu pada prinsip pedagogik, yaitu memahami karakteristik peserta didik. Jika metode dalam pemelajaran tidak dikuasai , maka penyampaian materi ajar menjadi tidak maksimal.
2.2    Konsep Belajar dan Pembelajaran Pada PAUD
1.         Konsep Belajar pada anak usia dini
            Belajar merupakan komponen ilmu pendidikan yang berkenaan dengan tujuan dan bahan acuan interaksi, baik yang bersifat eksplisit maupun implisit (tersembunyi).  Dengan demikian belajar dapat dipahami sebagai suatu usaha atau latihan supaya mendapat kepandaian.dalam implementasinya, belajar adalah kegiatan individu memperoleh pengetahuan, perilaku dan keteramoilan dengan cara mengolah bahan belajar.para ahli psikologi dan guru-guru pada umumnya memandang belajar sbagai kelakuan yang berubah, pandangan ini memisahkan pengertian yang tegas antara pengertian proses belajar degan kegiatan yang semata-mata bersifat hafalan.  belajar tidak terjadi hanya karena proses kematangan dari dalam saja (innate tendencies, yang merupakan faktor genetis), melainkan juga karena pengalaman yang perolehannya bersifat eksistensial. Psikologi tersebut ditinjau dari perspektif humanistik eksistensial dilandasi oleh asumsi yang bersumber dari pendekatan fenemenologis, yaitu suatu pendekatan yang menekan persepsi individualnya sendiri.
            Aktualisasi diri yang berawal dari tergeraknya potensi dari dalam (from within), adalah permulaan manusia belajar mencapai realisasi diri secara optimal. Untuk itu, ia belajar bagaimana ia harus belajar sepanjang hayat.

            Untuk menangkap isi dan pesan belajar, maka dalam belajar tersebut individu menggunakan kemampuan pada anak-anak:
a.       Kognitif, yaitu kemampuan yang berkenaan dengan pengetahuan, penalaran atau pikiran, terdiri darikategori pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi. Melalui kemampuan ini anak mampu menyadari keberadaan benda yang tidak dilihatnya. Anak bereksplorasi melalui indra dan motorik nya terhadap benda yang ada di sekitarnya. Anak mampu mengenal benda dan memanipulasi objek. Dan anak mampu memahami konsep sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
b.      Afektif, yaitu kemampuan yang mengutamakan perasaa emosi, dan reaksi-reaksi yang berbeda dengan penalaran yang terdiri dari kategori penerimaan, partisipasi, penilaian atau penentuan sikap, organisasi dan pembentukan pola hidup. Melalui kemampuan ini anak mampu membangun interaksi dengan merespon kehadiran orang lain, mampu berinteraksi dengan lingkungan terdekatnya, mampu menunjukan keinginan dengan kuat, dapat menunjukian reaksi emosi yang wajar dan mampu menunjukan rasa percaya diri, kemudian anak dapat menjaga dirinya sendiri.
c.       Psikomotorik, yaitu kemampuan yang mengutamakan keterampilan jasmani terdiri dari persepsi, kesiapan, gerakan terbimbing, gerakan terbiasa, gerakan kompleks, penyasuaian pola gerakan, dan kreatifitas. Anak mampu menggerak kan tangan, lengan, kaki, kepala dan badan, mampu menggerakkan anggota tubuhnya dalam rangka latihan kekuatan otot untuk menjaga keseimbangan, mampu melakukan gerakan tubuh secara koordinasi dalam rangka kelenturan, kelincahan dan keseimbangan.
d.      Seni, anak mampu bereaksi terhadap irama yang di dengarnya, mampu meniru saura dan gerakan secara sederhana, menyajikan dan berkarya seni dan anak mampu mengekspresikan diri dengan menggunakan berbagai median dalam berkarya seni melalui kegiatan eksplorasi.
e.       Bahasa, Anak mampu mengerti isyarat dan perkataan orang lain serta mengucapkan keinginan nya secara sederhana, mampu berkomunikasi secara lisan serta memeiliki pembendaharaan kosa kata dengan simbol-simbol untuk persiapan membaca, menulis, dan menghitung.
2.      Konsep Pembelajaran pada anak usia dini
Kegiatan pembelajaran pada anak usia dini pada hakikatnya adalah pengembangan kurikulum secara konkret berupa seperangkat rencana yang berisi sejumlah pengalaman belajar melalui bermain yang diberikan pada anak usia dini berdasarkan potensi dan tugas perkembangan yang harus dikuasai dalam rangka pencapaian kopetensi yang harus dimiliki oleh anak (Sujiono dan Sujiono,2007:206).
          Bennett, Finn dan Cribb (1999:91-100),menjelaskan bahwa pada dasarnya pengembangan program pembelajaran adalah pengembangan sejumlah pengalaman belajar melalui bermain yang dapat memperkaya pengalaman bermain anak tentang berbagai hal, seperti cara berpikir teentang diri sendiri, tanggap pada pertanyaan, dapat memberikan argumen untuk mencari berbagai alternatif.
          Mengutif pendapat Kitano dan Kirby (1989:127-167), pembelajaran haruslah terkait dengan pengembangan kurikulum yang merupakan rencana pendidikan yang dirancang untuk memaksimalkan interaksi pembelajaran dalam rangka menghasilkan perubahan prilaku yang potensial. Kurikulum yang komprehensif seharusnya memiliki elemen utama dari setiap bidang pengembangan yang disesuaikan dengan tingkat atau jenjang pendidikannya serta mengetengahkan target pencapaian perserta didik yang mencakup seluruh kegiatan pembelajaran dilembaga pendidikan.
          Unsur utama dalam pengembangan program pembelajaran bagi anak usia dini adalah bermain. Allbrecht dan Miller (2000:216-218) berpendapat bahwa dalam pengembangan program pembelajaran bagi anak usia dini harusnya sarat dengan aktivitas bermain yang mengutamakan program adanya kebebasan bagi anak untuk bereksplorasi dan beraktivitas, sedangkan orang dewasa seharusnya lebih berperan sebagai fasilitator saat anak membutuhkan bantuan untuk memecahkan masalah yang dihadapi.






BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

            Belajar  adalah hubungan yang dapat membuat perubahan tingkah laku akibat adanya stimulus dan juga pengulangan yang dilakukan oleh guru. Sedangkan Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah, mengajar dilakukan oleh pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik atau murid.sehingga mengupayakan terjadinya interaksi anatara guru dan murid.
Dalam penerapan konsep belajar dan pembelajaran pada anak usia dini maka harus menggunakan kemampuan pada anak-anak: Afektif, psikomotorik, seni dan bahasa. bermain menjadi sebuah kegiatan yang tak tertandingi dalam mendukung perkembangan dan belajar anak, Jika anak belajar dengan bermain, maka ia akan memiliki ketahanan belajar lebih baik jika dilakukan dengan kegiatan belajar seperti biasanya. Dengan melihat kondisi tersebut hendaknya dilakukan pengelolaan terhadap kegiatan bermain anak dengan baik, tujuannya adalah agar kegiatan bermain dapat diarahkan untuk mengembangkan kemampuan anak.











                                                                     







Daftar Pustaka

konsep_dasar_pendidikan_anak_usia_dini.pdf diunduh pada tanggal 20 Februari 2017 pukul 08.30

Karakteristik Belajar Anak Usia Dini


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Karakteristik Belajar Anak Usia Dini
Dalam undang-undang tentang sistem pendidikan nasional dinyatakan bahwa pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (UU Nomor 20 Tahun 2003 Bab I Pasal 1 Ayat 14).
Di Indonesia anak usia dini adalah anak yang baru dilahirkan sampai usia 6 tahun. Usia ini merupakan usia yang sangat menentukan dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak (http://ebekunt.wordpress.com/2010/07/27/strategi-pembelajaran-untuk-anak-usia-dini/). Usia dini merupakan usia di mana anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat. Oleh karena itu, Usia dini sering kali disebut sebagai usia emas (golden age). Makanan yang bergizi yang seimbang serta stimulasi yang intensif sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan tersebut. Tetapi meskipun usia dini merupakan rentang usia dimana anak mengalami masa-masa golden age bukan berarti anak harus dijejali dengan berbagai pembelajaran yang memberatkan, melainkan anak harus dibimbing dan dididik berdasarkan pada karekteristik belajarnya sebagai bentuk mempersiapkan diri untuk kehidupan selanjutnya.
Anak memiliki karakteristik yang berbeda dengan orang dewasa dalam berperilaku. Dengan demikian dalam hal belajar anak juga memiliki karakteristik yang tidak sama pula dengan orang dewasa. Karakteristik cara belajar anak merupakan fenomena yang harus dipahami dan dijadikan acuan dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran untuk anak usia dini. Adapun karakterisktik cara belajar anak menurut Masitoh dkk. adalah :   
1.     Anak belajar melalui bermain.
Dalam kenyataan di lapangan ternyata masyarakat Indonesia masih memiliki pemikiran bahwa pembelajaran yang senantiasa dilakukan pada pendidikan dasar adalah membaca,menulis dan berhitung (calistung) baik itu di sekolah dasar maupun di Taman kanak-kanak sekalipun. Belajar calistung memang pada dasarnya penting karena hal tersebut merupakan dasar untuk mengembangkan pengetahuan selanjutnya yang akan dipelajari anak pada tingkatan yang lebih tinggi. Tetapi berbicara anak usia dini yang merupakan usia golden age calistung bukanlah suatu hal yang utama dalam pembelajaran karena pada usia ini pengembangan tidaklah hanya pada otak kiri saja melainkan harus ada keseimbangan antara otak kiri dan otak kanan, yang pada dasarnya menurut beberapa penelitian akan terjadi kemampuan yang luar biasa ketika kedua otak tersebut dapat difungsikan. Selain itu,hasil temuan Orstein(Sudirjo,2011:64) menjelaskan bahwa orang-orang yang sudah dilatih untuk menggunakan suatu belahan otak secara eksklusif relatif tidak mampu menggunakan belahan otak lainnya. Selain itu, temuannya juga menjelaskan jika bagian otak yang lebih lemah dirangsang dan di dorong untuk difungsikan bersama-sama dengan bagian yang lebih kuat,maka hasilnya adalah adanya sutu peningkatan dalam keseluruhan kecakapan. Berdasarkan pada penemuan tersebut membuktikan bahwa membaca,menulis dan berhitung bukan merupakan fokus utama dalam pendidikan anak usia dini.
Berdasarkan pada isu diatas, National Association for the education of young children Amerika Serikat (NAEYC)menertibkan suatu panduan pendidikan bagia anak usia dini yang salah satunya menekankan penerapan bermain (termasuk bernyanyi dan bercerita) sebagai alat utama belajar anak. Sejalan dengan itu, kebijakan pemerintah Indonesia di bidang pendidikan usia dini (1994/1995)juga menganut prinsip “bermain sambil belajar atau belajar seraya bermain”.
Tetapi budaya atau anggapan masyarakat tentang aktifitas bermain yang hanya dianggap membuang-buang waktu anak masih saja ada. Berkenaan dengan hal tersebut,Maxim (Sudirjo,2011:66) menjelaskan bahwa sekurang-kurangnya ada dua alasan yang menyebabkan orang kurang menghargai aktivitas bermain anak. Pertama adalah pengaruh historis dari etika bekerja. Etika bekerja mengimplikasikan bahwa segala aktivitas yang berhubungan dengan kesenangan bukanlah bekerja. Kedua adalah karena pengaruh langsuang yang diperolah dari aktivitas bermain tidak jelas,sedangkan pengaruh langsung dari kegiatan pengajaran terstruktur dapat dengan mudah diketahui.

2.     Anak belajar dengan cara membangun pengetahuannya.
Hal ini dapat diartikan bahwa anak belajar dengan pengalamannya secara langsung, guru hanya bertugas memberikan fasilitas dan stimulus pada anak agar anak terangsang untuk melakukan sebuah aktifitas pembelajaran sehingga pada akhirnya anak akan mendapatkan sebuah pengalaman baru yang nantinya akan disimpulkan menjadi sebuah proses belajar yang berawal dari ketidaktahuan menjadi tahu sebagai akibat dari pengalaman langsung tersebut

3.     Anak belajar secara alamiah.
Anak belajar dengan kemampuan, potensi serta apa yang dia miliki tanpa ada paksaan atau tuntutan yang berlebihan, sehingga anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan fitrahnya melalui cara belajar alamiah .


4.     Anak belajar paling baik jika apa yang dipelajarinya mempertimbangkan keseluruhan aspek pengembangan, bermakna, menarik, dan fungsional.
Dari pernyataan tersebut bisa kita teliti satu persatu, yang pertama adalah mempertimbangkan keseluruhan aspek pengembangan, pada dasarnya pembelajaran pada anak usia dini dilakukan secara terintegrasi dan berdasarkan tema sehingga aspek perkembangan yang dikembangkanpun bervariasi hal tersebut berdasarkan pada teori multiple intelegensi yang disampaikan oleh Garner,yang menyatakan bahwa anak memiliki banyak sekali potensi dan semua potensi tersebut harus berusaha dikembangkan yang pada akhirnya akan diketahui potensi mana yang dinggap paling menonjol. Kedua bermakna,system belajar pada anak usia dini harus dilaksanakan seefektif mungkin sesuai dengan karakteristik anak usia dini itu sendiri sehingga pembelajaran akan menghasilkan suatu perubahan pada perkembangan anak dan tidak hanya sekedar pentransferan ilmu saja melainkan harus ada makna dibalik pembelajaran tersebut. Ketiga menarik, tentu saja ketika anak merasa tertarik dengan pembelajaran akan timbul semangat dan keingintahuan anak tentang apa yang dibahas oleh guru, hal tersebut juga melatih anak agar memiliki jiwa kreatif. Terakhir adalah fungsional yang berarti anak akan belajar apabila yang dipelajarinya itu sesuai dengan kebutuhan dirinya.

B.    Karakteristik Pembelajaran Anak Usia Dini
Kegiatan pembelajaran pada anak usia dini, menurut Sujiono dan Sujiono (Yuliani Nurani Sujiono, 2009: 138) pada dasarnya adalah pengembangan kurikulum secara konkret berupa seperangkat rencana yang berisi sejumlah pengalaman belajar melalui bermain yang diberikan pada anak usia dini berdasarkan potensi dan tugas perkembangan yang harus dikuasainya dalam rangka pencapaian kompetensi yang harus dimiliki oleh anak.
Atas dasar pendapat di atas dapat dinyatakan bahwa pembelajaran untuk anak usia dini memiliki karakteristik sebagai berikut.

1.     Belajar, bermain, dan bernyanyi
Pembelajaran untuk anak usia dini menggunakan prinsip belajar, bermain, dan bernyanyi (Slamet Suyanto, 2005: 133). “Pembelajaran untuk anak usia dini diwujudkan sedemikian rupa sehingga dapat membuat anak aktif, senang, bebas memilih. Anak-anak belajar melalui interaksi dengan alat-alat permainan dan perlengkapan serta manusia. Anak belajar dengan bermain dalam suasana yang menyenangkan, Hasil belajar anak menjadi lebih baik jika kegiatan belajar dilakukan dengan teman sebayanya. Dalam belajar, anak menggunakan seluruh alat inderanya.”
Kegiatan ini adalah kegiatan rutinitas bagi anak usia dini, kegiatan ini diselenggarakan di PAUD adalah untuk memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal, bermakna dan menyenangkan.

2.     Pembelajaran yang berorientasi pada perkembangan
Menurut Masitoh Pembelajaran yang berorientasi pada perkembangan mengacu pada tiga hal penting, yaitu : “1) berorientasi pada usia yang tepat, 2) berorientasi pada individu yang tepat, dan 3) berorientasi pada konteks social budaya.
Pembelajaran yang berorientasi pada perkembangan harus sesuai dengan tingkat usia anak, artinya pembelajaran harus diminati, kemampuan yang diharapkan dapat dicapai, serta kegiatan belajar tersebut menantang untuk dilakukan anak di usia tersebut.
Manusia merupakan makhluk individu. Perbedaan individual juga harus manjadi pertimbangan guru dalam merancang, menerapkan, mengevaluasi kegiatan, berinteraksi, dan memenuhi harapan anak.
Selain berorientasi pada usia dan individu yang tepat, pembelajaran berorientasi perkembangan harus mempertimbangkan konteks sosial budaya anak. Untuk dapat mengembangkan program pembelajaran yang bermakna, guru hendaknya melihat anak dalam konteks keluarga, masyarakat, faktor budaya yang melingkupinya.

3.     Belajar Kecakapan Hidup
PAUD mengembangkan diri anak secara menyeluruh. Bagian dari diri anak yang dikembangkan meliputi bidang fisik-motorik, moral, sosial, emosional, kreativitas, dan bahasa. “Dalam buku Selamet Suryanto, tujuan belajar kecakapan hidup ialah agar kelak anak berkembang menjadi manusia yang utuh yang memiliki kepribadian dan akhlak yang mulia, cerdas dan terampil, mampu bekerjasama dengan orang lain, dan mampu hidup berbangsa dan bernegara serta bermasyarakat.”
Belajar memiliki fungsi untuk memperkenalkan anak dengan lingkungan sekitarnya. Belajar kecakapan hidup adalah salah satu cara mengasah kemampuan bertahan hidup. Hal tersebut adalah untuk membekali anak sebagai makhluk individu dan sosial dimasa yang akan datang.

4.     Belajar dari Benda Konkrit
Anak usia 5-6 tahun menurut Piaget (1972) “sedang dalam taraf perkembangan kognitif fase Pra-Operasional.” Anak belajar dengan baik melalui benda-benda nyata. Pada tahap selanjutnya objek permanency sudah muai berkembang. Anak dapat belajar mengingat benda-benda, jumlah dan ciri-ciriya meskipun bendanya sudah tidak ada.

5.     Belajar Terpadu
Pada Pendidikan Anak Usia Dini, pembelajaran diberikan secara terpadu, tidak belajar mata pelajaran tertentu. Hal ini didasarkan atas berbagai kajian keilmuan PAUD, bahwa anak belajar segala sesuatu dari fenomena dan objek yang ditemui. Melalui air mereka bisa belajar berhitung (matematika), menegenal sifat-sifat air (IPA), menggambar air mancur (seni), dan fungsi air dalam kehidupan masyarakat (sosial).
Pembelajaran terpadu dengan tema dasar tertentu dikenal dengan pembelajaran tematik.  Tema dasar dipilih dari kejadian sehari-hari yang dialami oleh sisiwa. Dalam tema dasar yang dipilih dikembangkan menjadi tema-tema yang banyak yang disebut unit tema. Pemilihan unit tema, didasarkan atas berbagai pertimbangan, seperti muatan kurikulum, pengetahuan, nilai-nilai, keterampilan, dan sikap yang ingin dikembangkan.

C.    Peranan guru dalam belajar dan pembelajaran
Peranan Guru Dalam proses belajar dan Pembelaran adalah sebagai berikut :
1.     Guru  harus menyediakan situasi eksperimental untuk memfasilitasi penemuan anak.
Peranan guru disini  adalah mengamati setiap kegiatan yang dilakukan anak tanpa membatasi kegiatannya akan tetapi guru tetap  memberi dukungan serta memfasilitasi perkembangan anak. 
2.     Per anan guru adalah mengarahkan pembelajaran pada kekuatan yang dimiliki anak seraya tetap memberikan tantangan.
Dalam  hal ini guru berperan untuk selalu memberi arahan sesuai dengan kekuatan anak  tetapi dalam pembelajaran yang berlangsung guru tetap memberi tantangan pada siswa agar siswa mampu memupuk rasa percaya diri yang dimilikinya.
3.     Guru harus menciptakan suasana eksplorasi aktif dan mendukung perkembangan anak.
Peranan guru adalah memberikan keberanian kepada anak agar mampu bereksplorasi dengan dunianya atau sekelilingnya dengan selalu memberikan dukungan serta menghilangkan keterikatan anak.
D.    Manfaat mempelajari karakteristik belajar dan pembelajaran aud bagi guru
Dilihat dari berbagai karakteristik belajar dan pembelajaran anak usia dini yang telah dibahas maka akan muncul pertanyaan untuk apa dan manfaat apa yang bisa didapat dari seorang guru mempelajari atau mengetahui hal tersebut. Berikut adalah manfaat-manfaatnya :
1.     Guru tidak hanya menekankan kognitif
Belajar tidak lagi ditekankan pada penguasaan ilmu pengetahuan, namun diartikan sebagai perubahan dalam diri seseorang, berupa adanya pola sambutan yang baru yang dapat dilihat pada perubahan kognitif, afektif, psikomotor.
2.     Guru tidak hanya mengajar
Dalam hal ini mengajar diartikan mencurahkan atau menyampaikan ilmu pengetahuan namun lebih ditekankan pada memberikan bimbingan, dorongan dan arah pada siswa. Masalah utama yang dihadapi guru ialah apa harus dilakukan agar siswa mau dan berkeinginan untuk belajar. Adanya kemauan dan keinginan saja bukanlah cukup, namun perlu dibina dan diarahkan agar kegiatan mereka tetap pada jalan yang benar, sehingga tujuan yang sudah ditetapkan dapat tercapai
3.     Guru dapat merancang pembelajaran dengan baik
Setelah mempelajarai belajar dan pembelajaran tentunya guru akan lebih mudah merancang pembelajaran dengan baik, baik dikelas maupun diluar kelas, karena guru sebelumnya sudah mengetahui karakteristik peserta didiknya sehingga memudahkan guru menjalankan pembelajaran.
4.     Guru dapat memberi peluang kepada siswa untuk berhasil
Dengan mata kuliah ini guru dapat memberikan kesempatan yang lebih besar keada siswa untuk berhasil, karena dalam hal ini guru tidak hanya mengajar tetapi melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran.
E.    Masalah Belajar dan Pembelajaran yang Sering dihadapi Anak Usia Dini
            Kesulitan belajar dan pembelajaran pada anak dapat dimaknai sebagai ketidsakmampuan anak dalam mencapai taraf hasil belajar yang sudah ditentukan dalam batas waktu yang telah ditetapkan dalam program kegiatan belajar, sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Beberapa indikator dan jenis kesulitan belajar yang mungkin dialami anak adalah sebagai berikut.
1.     Memiliki tingkat IQ yang rendah
2.     Mengalami kesulitan yang signifikan dalam bidang yang berkaitan dengan sekolah (terutama membaca dan matematika).
3.     Perhatian yang tidak fokus atau perhatain yang rendah
4.     Hiper aktif (hiperaktivitas)
5.     Kematangan kognitif.
6.     Kurang motivasi dalam belajar
7.     Bersikap dan berkebiasaan buruk dalam belajar
8.     Sangat lambat dalam belajar

Faktor timbulnya masalah belajar dan pembelajaran
1.     Faktor yang Bersumber dari Diri Pribadi (Internal) Faktor yang bersumber dari diri pribadi sendiri yaitu :
a.      Faktor Psikologis
Intelegensi peserta didik yang mempunyai intelegensi tinggi akan lebih mudah dalam memahami pelajaran yang diberikan guru atau lebih berhasil dibandingkan dengan peserta didik yang berintelegensi rendah. Bakat apabila bahan yang dipelajari oleh siswa tidak sesuai dengan bakatnya maka siswa akan mengalami kesulitan dalam belajar. Motivasi Prestasi belajar siswa bisa menurun apabila siswa tersebut tidak mempunyai motivasi dalam belajar.
b.     Faktor Fisiologis
Gangguan-gangguan fisik dapat berupa gangguan pada alat-alat penglihatan dan pendengaran yang dapat menimbulkan kesulitan belajar. Seperti gangguan visual yang sering disertai dengan gejala pusing, mual, sakit kepala, malas, dan kehilangan konsentrasi pada pelajaran.
2.     Faktor Eksternal
a.      Faktor yang Bersumber dari Lingkungan Sekolah
        Apabila guru menggunakan metode yang sama untuk semua bidang studi dan pada setiap pertemuan akan membosankan siswa dalam belajar.  Hubungan guru dengan guru, guru dengan siswa, dan siswa dengan siswa. Dalam proses pendidikan, antar guru, guru dengan siswa, dan antar siswa tidak terjalin hubungan yang baik dan harmonis untuk bekerja sama, maka siswa akan mengalami kesulitan dalam belajar. Karena antar personal sekolah akan saling menyebutkan kelemahan dari personal lain dan terjadinya persaingan yang kurang sehat. Sarana dan prasarana alat-alat belajar yang kurang atau tidak lengkap, buku-buku sumber yang diperlukan sulit didapatkan, ruang kelas, ruang kelas tidak mencukupi syarat seperti terlalu panas, pengap, dan ruang kecil yang tidak sesuai dengan jumlah siswa.
b.     Faktor Keluarga
           Keadaan ekonomi keluarga apabila anak hidup dalam keluarga yang miskin dan harus bekerja membantu mencari tambahan ekonomi keluarga akan menimbulkan kesulitan bagi anak, mungkin akan terlambat datang, tidak dapsat membeli peralatan sekolah yang dibutuhkan, tidak dapat memusatkan perhatian karena sudah lelah dan sebagainya. Hubungan antar sesama anggota keluarga, apabila hubungan antar keluarga tidak harmonis, seperti orang tua sering bertengkar, orang tua otoriter, peraturan yang ketat, dan sebagainya, maka anak tidak bisa berkonsentrasi dalam belajar. Tuntutan orang tua dapat menimbulkan kesulitan belajar bagi anak apabila tuntutan itu tidak sesuai dengan kemampuan, minat, dan bakat anak. Dan terkadang orang tua yang kurang memperhatikan dalam proses belajar anak akan menghambat semangat anak dalam pembelajarannya, misalnya orang tua yang kurang peduli terhadap apa yang dilakukan anak di sekolah tidak adanya motivasi dari orang tua, tidak adanya sentuhan memberikan contoh pembelajaran akan membuat kesulitan anak dalam proses belajar dan pembelajaran anak.
c.      Faktor Lingkungan Masyarakat.
Faktor yang bersumber dari lingkungan masyarakat yang dapat menimbulkan kesulitan belajar adalah media cetak, komik, buku-buku pornografi, media elektronik, TV, VCD, video, play station, dan sebagainya. Apabila di dalam lingkungan masyarakat tidak mendukung anak dalam proses belajar dan pembelajaran anak maka disini anak akan menemukan kesulitan dalam belajarnya.

Upaya Pengentasan Masalah Belajar
1.     Peningkatan Motivasi Belajar
Guru yang professional, guru yang bertanggung jawab tentu akan mendukung apa yang anak kerjakan. Guru akan memberikan motivasi kepada anak dan kepercayaan yang kuat, sehingga anak tidak akan menemukan kesulitan dalam belajar dan proses pembelajarannya karena dengan motivasi-motivasi dari guru tersebut. Jika guru terus memberikan mpotivasi maka nak akan percaya diri terhadap apa yang akan dikerjakan.
2.     Pengembangan Sikap dan Kebiasaan Belajar yang Baik
Setiap anak diiharapkan menerapkan sikap dan kebiasaan belajar yang efektif karena prestasi belajar yang baik diperoleh melalui usaha atau kerja keras.  Guru berperan dalam mengembangkan seluruh bakat, potensi yang dimiliki anak, begitupun dengan cara mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar anak yang baik. Bagaimana seorang guru memberikan perhatian dan pembiaasaan yang baik dalam upaya mengembangkan sikap dan kebiasaan yang baik dalam belajarnya, sehingga akan terhindar dari kesulitan dalam belajar dan pembelajarannya.
3.     Layanan Konseling Individual
Dalam hubungan tatap muka antara konselor dengan klien (siswa) pada kegiatan konseling diupayakan adanya pengentasan masalah-masalah klien yang telah disampaikan pada konselor. Tidak hanya dalam perilaku, sikap yang diperbaiki, akan tetapi ketika anak memiliki masalah dalam kesulitan belajar disini pun harus dilakukannya konseling guna membantu anak untuk menyelesaikan masalah dalam kesulitannya belajar dan pembelajaran tersebut.
http://hanahafifah.blogspot.co.id/2013/03/karakteristik-belajar-dan-pembelajaran.html/22/02/17